
Jurusan Adm Bisnis FISIP Unila menerima dua mahasiswa asal Provinsi Papua melalui Program Afirmasi Pendidikan Tinggi Papua dan Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (ADik Papua dan Daerah 3T). Mereka berdua adalah Yosinta Iyai (1616051061) Autrin G.A Bless (1616051062). Selain di FISIP, mahasiswa program ini juga berada di Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian, Fakultas MIPA, dan Fakultas Teknik. Mahasiswa ADik Papua dan Daerah 3T di FISIP berada di Jurusan Sosiologi, Jurusan Ilmu Pemerintahan, dan Jurusan Adm Bisnis. Program ADik Papua dan Daerah 3T merupakan program keberpihakan pemerintah yang diatur secara khusus untuk memberikan akses seluas-luasnya kepada siswa lulusan SMU sederajat yang berasal dari daerah tertentu yang karena kondisi ketertinggalan pembangungan dan keterbatasan infrastruktur pendidikan di daerahnya sehingga tidak mampu mengakses masuk ke PTN melalui jalur seleksi masuk perguruan tinggi, sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan. Sasaran Program ADik Papua dan Daerah 3T adalah lulusan SMA sederajat yang berasal dari Papua, Papua Barat, Daerah 3T, orang asli Papua (OAP), dan anak dari TKI di luar negeri. Ita, panggilan akrab Yosinta Iyai, berasal dari Kabupaten Nabire, sebuah daerah yang memiliki wisata taman nasional yang terkenal, yaitu Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Di taman nasional ini terdapat satwa yang sangat terkenal yaitu ikan Hiu Paus. Masyarakat lokal menjuluki ikan Hiu Paus ini dengan julukan ikan bermulut besar dan berbintik putih. Kab Nabire juga memiliki hasil bumi yang sangat terkenal di Papua yaitu jeruk Nabire. Jeruk ini terkenal sangat manis dan berair banyak. Golda, panggilan akrab Autrin G.A Bless berasal dari Kabupaten Yapen. Yapen terkenal sebagai daerah habitat alam burung Cendrawasih. Di kabupaten ini masih banyak burung Cendrawasih yang hidup di alam bebas.
Menurut Ita dan Golda, mereka mendaftar program ini ke Dinas Pendidikan Kabupaten melalui sekolah masing-masing dengan melampirkan raport kelas 10 s.d kelas 12 semester 1, pas foto, surat keterangan berkelakuan baik, dan SKHUN. Siswa diusulkan oleh Kepala Sekolah dan mendapat rekomendasi dari pemerintah daerah dengan memertimbangkan kebutuhan sumberdaya manusia daerahnya. Tes masuk program ini terpisah dengan tes SBMPTN. Setelah diterima, Ita dan Golda dikumpulkan di Provinsi Papua untuk menerima pembekalan selama satu minggu dan membuat buku tabungan. Materi yang diberikan selama pembekalan meliputi wawasan kebangsaan, NKRI, bela negara, terorisme dan NAPZA, sosial budaya, dunia akademik kampus, dan motivasi. Tahap selanjutnya mereka diberangkatkan ke kampus tujuan (Unila) dengan biaya dari Kemenristekdikti. Kampus (program studi) tujuan bisa sesuai dengan pilihan siswa atau sesuai dengan pengaturan Kemenristekdikti. Sesampai di Unila, Ita dan Golda ditempatkan di Rusunawa Unila. Fasilitas pembiayaan yang diperoleh mereka adalah biaya penyelenggaraan pendidikan (SPP/UKT), living cost, dan asuransi. Beberapa mahasiswa juga memperoleh pembiayaan dari Pemerintah Daerah masing-masing. Ketua Jurusan Adm Bisnis Ahmad Rifa’i, S.Sos, M.Si menambahkan mahasiswa asal Papua ini pernah diundang silaturahmi oleh Walikota Bandar Lampung pada Desember 2018. Selesai silaturahmi mereka memperkenalkan tarian Yospan Papua di hadapan Walikota Bandar Lampung.